Opini

Menariknya Permainan Suku Bunga

Sabtu 08 Desember 2018 | 10:00 WIB
Oleh: Salsabila Qotrunada Fristheace Leany

Selama masa perkuliahan di FEB UHAMKA saya mendapatkan pelajaran bagaimana cara menganalisa tingkat suku bunga. Kenaikan tingkat suku bunga The Fed membuat rintihan masyarakat Negara berkembang khususnya Indonesia semakin terlihat jelas. Tidak lagi hanya dapat didengar, rintihannya kini terlihat semakin nampak dipermukaan. Kesenjangan perekonomian semakin terlihat jaraknya karena mereka yang diatas dengan mudahnya menarik dan memindahkan tumpukan dollarnya kembali pada pangkuan negara Paman Sam.

Dilansir dari CNBC Indonesia Bank Sentral AS, Federal Reserve/The Fed pada akhir pekan lalu merilis adanya indikasi kenaikan suku bunga  menjadi 4 kali yang semula hanya 3 kalipada bulan September dan desember yang sebelumnya sudah dilakukan pada bulan juli dan agustus. Tentunya untuk Negara berkembang khususnya Indonesia deklarasi tersebut menyebabkan konspirasi internal khususnya dalam aspek perekonomian.

Kekhawatiran yang berkelanjutan tentang akankah Indonesia akan kembali pada masa rubuhnya kekuatan moneter Indonesia? Dari sudut pandang kami sebagai pemula rasanya bukan hal sulit bagi mesin pencetak uang Paman Sam untuk memainkan suku bunga miliknya. Perang dingin anatara amerika serikat dengan Tiongkok akan membuat Amerika semakin menggebu-gebu dalam permainannya (tingkat suku bunga) yang menjadi salah satu faktor terkuatnya.

Atas dasar tersebut Bank Sentral Indonesia yaitu Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan makro prudensial yang bertujuan mendorong perekonomian Indosensia. BI siap menempuh kebijakan lanjutan yang pre-empitive front loading, dan ahead the curve dalam menghadapi perkembangan baru arah kebijakan The Fed. BI 7-day reserve repo rate menjadi acuan dalam menaikan suku bunga untuk mengimbangi kenaikan suku bunga The Fed.

Pasalnya BI akan lebih dulu menaikan tingkat suku bunga  tiga kali dalam dua bulan terakhir. Tentunya ini adalah kebijakan positif yang dapat dilakukan oleh Bank Sentral Indonesia (BI) dalam menghambat aliran dana yang masuk ke Amerika Serikat akibat perbedaan imbal hasil yang menipis. sehingga membuat para pemegang dollar berpikir dalam menindak lanjuti untuk tetap mengembalikan dollar pada Paman Sam  atau mempertahankan dollarnya di Indonsia.

Gertakan semacam ini tentunya akan sangat menguntungkan Indonesia bukan hanya pada sektor investasi saja tapi juga pada sektor perekonomian. Menguatnya nilai rupiah terhadap dollar akan membuat rintihan kekhakatiran masyarakat Indonesia sedikit terkikis.

Dollar yang sejatinya menjadi nilai tukar dunia seharusnya bukanlah menjadi penghalang untuk setiap transakksi dunia, terlebih menjdi tembok besar bagi perekonomian dunia. Positif atau negatifnya atas  dampak permainan suku bunga ditentukan oleh bagaimana mana setiap Negara menentukan kebijkan moneternya.

Penulis adalah Salsabila Qotrunada Fristheace Leany, Mahasiswi Program Studi Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Berita Terkait

Komentar