Opini

Antara Kecanggihan Teknologi Dan Lunturnya Nilai Kebersamaan Sebagai Warga Negara

Senin 16 Juni 2025 | 21:21 WIB
Oleh: Khotib

Perkembangan teknologi digital, khususnya gadget dan internet,telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia modern. Kecanggihan teknologi menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari komunikasi instan, akses informasi yang tak terbatas, hingga efisiensi dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan.

Namun,di balik segala manfaat yang ditawarkan muncul persoalan mendasar yang mulai mengikis nilai-nilai sosial ditengah masyarakat yaitu lunturnya rasa kebersamaan. Fenomena ini sangat terlihat dalam kehidupan mahasiswa sebagai bagian dari warga negara yang diharapkan menjadi agen perubahan di masa depan.

Mahasiswa sebagai kelompok intelektual memiliki peran strategis dalam menjaga serta menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan dan kewarganegaraan. Akan tetapi dalam kenyataannya penggunaan gadget yang berlebihan justru membawa dampak negatif terhadap interaksi sosial. Di lingkungan kampus bukan hal yang asing ketika sekelompok mahasiswa berkumpul secara fisik namun masing-masing asyik dengan gadgetnya. Interaksi yang semestinya menjadi ruang bertukar pikiran dan membangun solidaritas berubah menjadi aktivitas individual yang terputus dari lingkungan sekitar. Hal ini mencerminkan gejala sosial yang mengarah pada melemahnya rasa kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Kebersamaan bukan sekadar bentuk interaksi melainkan nilai luhur yang menjadi dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks mahasiswa kebersamaan tercermin dalam kegiatan kolaboratif seperti diskusi, kerja kelompok, kegiatan organisasi, maupun aksi sosial kemasyarakatan. Ketika mahasiswa mulai kehilangan minat untuk terlibat dalam kegiatan tersebut akibat distraksi dari teknologi maka hal itu menjadi tanda kemunduran partisipasi sosial sebagai wujud tanggung jawab kewarganegaraan.

Menurut teori kewarganegaraan aktif setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat. Peran ini tidak hanya dilakukan melalui mekanisme formal seperti pemilihan umum  tetapi juga melalui aktivitas sosial yang mencerminkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Mahasiswa sebagai bagian dari warga negara yang terdidik seharusnya menjadi pelopor dalam menjaga nilai-nilai tersebut bukan justru terjebak dalam individualisme digital yang mendorong sikap apatis.

Kecanggihan teknologi seharusnya menjadi alat pendukung,bukan pengganti interaksi sosial. Penggunaan gadget secara bijak dapat meningkatkan efektivitas kerja, memperluas wawasan, dan mempermudah koordinasi. Namun,tanpa kontrol yang baik gadget justru menciptakan ketergantungan yang merusak kualitas hubungan antarindividu. Mahasiswa yang terlalu fokus pada dunia maya rentan kehilangan kepekaan sosial, karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk konsumsi konten pribadi dibandingkan membangun komunikasi yang bermakna secara langsung.

Hal ini juga berdampak pada penguatan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sila ketiga,"Persatuan Indonesia" menekankan pentingnya rasa solidaritas dan kesatuan. Ketika mahasiswa lebih sibuk dengan dunia digitalnya masing-masing dan enggan menjalin kerja sama maka nilai persatuan tersebut menjadi tergerus secara perlahan, padahal mahasiswa seharusnya menjadi motor penggerak dalam menjaga keutuhan dan harmoni sosial di tengah masyarakat.

Untuk mengatasi persoalan ini perlu ada kesadaran kolektif dari mahasiswa untuk mengatur penggunaan teknologi secara proporsional. Kampus sebagai institusi pendidikan juga perlu mengintegrasikan pendidikan karakter dan kewarganegaraan dalam kurikulum secara lebih aplikatif. Kegiatan-kegiatan yang bersifat kolaboratif baik dalam akademik maupun sosial, harus terus digalakkan agar mahasiswa tetap terbiasa berinteraksi secara langsung dan membangun empati sosial.

Lebih dari itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa menjadi warga negara bukan hanya soal status hukum, melainkan juga tentang peran aktif dalam menjaga nilai-nilai sosial dan kebangsaan. Dalam konteks ini menjaga dan menumbuhkan nilai kebersamaan di era digital menjadi tantangan tersendiri yang harus dijawab dengan kesadaran dan komitmen.

Sebagai generasi muda penerus bangsa mahasiswa harus mampu menempatkan teknologi sebagai alat bantu untuk kemajuan, bukan sebagai penghalang hubungan sosial. Kecanggihan teknologi akan menjadi berkah apabila digunakan dengan bijak tetapi dapat menjadi bencana sosial apabila disalahgunakan. Oleh karena itu keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pelestarian nilai-nilai kebersamaan harus terus dijaga demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang harmonis dan beretika.

By; Jimmi Kristiadi Kusuma Ziliwu, Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Teknik Informatika

Berita Terkait

Komentar