Di tengah memanasnya dinamika global akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, potensi ancaman bagi Indonesia tidak hanya berkutat pada aspek ekonomi seperti lonjakan harga minyak dunia atau tekanan terhadap anggaran negara. Ancaman yang lebih subtil justru muncul dari berkurangnya eksistensi Indonesia dalam radar perhatian internasional.
Hal tersebut diungkap oleh peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial UHAMKA sekaligus Founding Director Global Trust Intelligence (GTI), Emaridial Ulza, dalam kajiannya terkait dampak konflik Timur Tengah terhadap Indonesia. Dalam laporan tersebut, ia memperkenalkan istilah strategic invisibility trap, yaitu kondisi ketika suatu negara nyaris tidak hadir dalam kesadaran global.
Menurut Emaridial, kondisi ini bukan berarti Indonesia dipandang negatif, melainkan justru tidak cukup terlihat dalam percakapan dunia. Di era arus informasi yang begitu cepat, negara yang tidak aktif membangun narasi cenderung terpinggirkan dari berbagai keputusan penting, baik dalam investasi, diplomasi, maupun strategi global.
Ia menambahkan, dalam sudut pandang pemasaran internasional dan neurosains perilaku kolektif, keputusan global tidak semata didasarkan pada data, tetapi juga pada narasi yang sering muncul dan melekat di benak publik.
“Negara yang tidak konsisten membangun narasinya sendiri berisiko kehilangan perhatian global, meskipun memiliki potensi ekonomi yang besar,” ujarnya, Senin (6/4).
Fenomena ini tampak kontras jika dibandingkan dengan Iran. Meskipun berada di tengah konflik besar, Iran tetap menjadi sorotan dan bagian dari diskursus global. Sebaliknya, Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan kondisi ekonomi yang relatif stabil justru belum muncul sebagai aktor utama dalam narasi global.
Lebih lanjut, Emaridial menilai bahwa persoalan ini tidak berhenti pada citra semata, tetapi berdampak langsung terhadap sektor ekonomi. Ketika reputasi dan persepsi global melemah, konsekuensinya dapat berupa tertundanya arus investasi, meningkatnya biaya pinjaman, hingga risiko keluarnya modal.
Laporan tersebut juga mengangkat konsep Keynesian Triple Squeeze, yakni tekanan simultan pada tiga pilar utama ekonomi: lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas. Situasi ini dinilai lebih kompleks dibandingkan krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang mampu menjadi penopang utama.
Dari sisi geopolitik, krisis energi global akibat konflik Timur Tengah juga berpotensi menggeser posisi tawar negara-negara ASEAN dalam bernegosiasi dengan Tiongkok, khususnya di kawasan Laut Tiongkok Selatan. Hal ini berimplikasi pada stabilitas keamanan regional, termasuk wilayah strategis Indonesia seperti Natuna.
Padahal, Indonesia memiliki sejumlah capaian yang diakui secara internasional, seperti keberhasilan dalam pemungutan pajak ekonomi digital yang menempatkannya di tiga besar dunia, serta program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi besar dalam pengembangan sumber daya manusia. Namun, capaian tersebut dinilai belum tersampaikan secara optimal di tingkat global.
Emaridial menegaskan bahwa di era saat ini, narasi memegang peran krusial dalam menentukan arah suatu negara. Ketidakmampuan dalam membangun narasi sendiri dapat membuat sebuah negara kehilangan posisi strategis di mata dunia.
Kajian ini disusun menggunakan pendekatan Global Trust Intelligence (GTI), yang menggabungkan perspektif pemasaran internasional, neurosains, ketahanan non-militer, serta ekonomi Keynesian untuk membaca keterkaitan isu secara komprehensif.
“Di tengah persaingan global yang semakin ditentukan oleh narasi, Indonesia dihadapkan pada pilihan untuk tetap berada di pinggir percakapan dunia atau mulai mengambil peran sebagai aktor yang diperhitungkan. Sebab, dalam sistem global saat ini, yang tidak terlihat berisiko dianggap tidak ada,” tutupnya.